TUGAS KELOMPOK PSIKOLOGI MANAJEMEN
NAMA-NAMA ANGGOTA ;
Ichtiarani Putri
Kerry Sarafina Nadita
Reanne Adhitta Putri
Ulfa Junianti
KELAS ;
3PA18
Pengertian Kepemimpinan menurut para ahli
Adapun beberapa pengertian kepemimpinan menurut para ahli yaitu:Pengertian kepemimpinan menurut Hemhill dan Coons adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goals). Pengertian kepemimpinan menurut Tannenbaum, Weschler dan Masarik menyatakan bahwa kepemimpinan adalah Pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu”. Pengertian kepemimpinan menurut Stogdill menyatakan bahwa kepemimpinan adalah pembentukan awal serta pemeliharaan struktur dalam harapan dan interaksi. Pengertian kepemimpinan menurut Katz dan Kahn menyatakan bahwa adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada , dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi. Pengertian kepemimpinan menurut Rauch dan Behling menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan. Pengertian kepemimpinan menurut Jacobs dan Jacques menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses memberi arti atau pengarahan yang berarti terhadap usaha kolektif dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran.
Teori Kepemimpinan
Teori
kepemimpinan membicarakan bagaimana seorang menjadi pemimpin; atau bagaimana
timbulnya seorang pemimpin. Ada beberapa teori tentang kepemimpinan,
diantaranya ialah:
1.
Teori Kelebihan, teori ini beranggapan bahwa seseorang akan menjadi pemimpin
apabila ia memiliki kelebihan dari para pengikutnya. Pada dasarnya kelebihan
yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin mencakup 3 (tiga) hal, yaitu:
a.
Kelebihan ratio: ialah kelebihan dalam menggunakan pikiran, kelebihan dalam pengetahuan
tentang hakikat tujuan dari organisasi, dan kelebihan dalam memiliki
pengetahuan tentang cara-cara menggerakkan organisasi, serta dalam pengambilan
keputusan yang cepat dan tepat. Dengan kelebihan ratio diharapkan seorang
pemimpin mampu mengatasi segala macam persoalan yang dihadapi oleh organisasi.
Pimpinan merupakan tumpuan dari para pengikutnya.
b.
Kelebihan rohaniah: berarti seorang pemimpin harus mampu menunjukkan keluhuran
budi pekertinya kepada para bawahan. Seorang pemimpin harus mempunyai moral
yang tinggi karena pada dasarnya pemimpin merupakan panutan para pengikutnya.
Segala tindakan, perbuatan, sikap dan ucapan hendaknya menjadi suri teladan
bagi para pengikutnya.
c.
Kelebihan badaniah: berarti seorang pemimpinan hendaknya memiliki kesehatan
badaniah yang lebih dari para pengikutnya sehingga memungkinkan untuk bertindak
dengan cepat. Akan tetapi masalah kelebihan badaniah ini dapat kita ambil
contoh, misalnya kepemimpinan Panglima Besar Jendral Soedirman, pada jaman
revolusi. Meskipun dalam keadaan sakit, beliau mampu memimpin perang gerilya
dan ia sangat disegani. Hal ini disebabkan oleh karena kewibawaannya dalam
memimpin anak buahnya.
2. Teori Sifat
Pada
dasarnya teori sifat sama dengan teori kelebihan. Teori ini menyatakan bahwa
seseorang dapat menjadi pemimpin yang baik apabila memiliki sifat-sifat yang
lebih daripada yang dipimpin yang dipimpin. Di samping memiliki tiga macam
kelebihan (ratio, rohaniah, dan badaniah), hendaknya seorang pemimpin mempunyai
sifat-sifat yang positif sehingga para pengikutnya dapat menjadi pengikut yang
baik, dan memberikan dukungan kepada pemimpinnya. Sifat-sifat kepemimpinan yang
umum, misalnya bersifat adil, suka melindungi, penuh percaya diri, penuh
inisiatif, mempunyai daya tarik, energik, persuasif, komunikatif dan kreatif.
Di
masa sekarang, di samping harus memiliki sifat-sifat seperti yang telah
diuraikan di atas, pemimpin diharapkan juga mempunyai sifat mental yang siap
membangun. Mukti Ali (saat masih menjabat sebagai Menteri Agama RI) menyatakan
ada ciri-ciri tertentu dari mental yang siap membangun, yaitu:
·
Suka bekerja keras
·
Sabar menderita dan menghadapi kesulitan untuk mencapai
tujuan
·
Bersifat terbuka, suka menerima ide-ide baru karena salah
satu sifat dari masyarakat ialah selalu berubah.
·
Mau bekerja sama dengan pihak-pihak lain (perseorangan,
badan-badan atau instansi-instansi) yang mempunyai ide-ide baru dan baik.
·
Berani melakukan eksperimen. Kalau tidak berani melakukannya
maka tidak akan pernah timbul ide-ide baru.
·
Hemat. Tidak boros.
·
Teliti dalam pekerjaan.
·
Jujur.
·
Bersifat mau berbakti atau mempunyai dedikasi.
·
Suku rukun, antara lain rukun dalam hubungan antar agama.
Kerukunan adalah salah satu prasyarat bagi pembangunan.
3. Teori Keturunan
Teori keturunan disebut juga teori
pembawaan lahir. Ada juga yang menyebut teori genetis. Menurut teori keturunan,
seseorang dapat menjadi pemimpin adalah karena keturunan atau warisan. Karena
orangtuanya seorang pemimpin maka anaknya otomatis akan menjadi pemimpin
menggantikkan orangtuanya. Hal ini berarti, seolah-olah menjadi pemimpin karena
ditakdirkan. Pada zaman penjajahan Belanda, teori ini sering menjadi kenyataan.
Misalnya, apabila ayahnya menjadi bupati, maka anaknya akan menjadi bupati
menggantikan orangtuanya. Pada abad modern dewasa ini, teori ini hanya terdapat
pada negara-negara yang berbentuk monarki (kerajaan), dimana kedudukan sebagai
raja diperoleh karena warisan atau keturunan.
4. Teori Kharismatis
Teori kharismatis menyatakan bahwa
seseorang menjadi pemimpin karena orang tersebut mempunyai kharisma (pengaruh)
yang sangat besar. Kharisma itu diperoleh dari Kekuatan Yang Maha Kuasa. Dalam
hal ini terdapat suatu kepercayaan bahwa orang itu adalah pancaran dari Zat
Tunggal, dari Tuhan Yang Esa, sehingga dianggap mempunyai kekuatan ghaib
(supranatural power). Pemimpin yang bertipe kharismatis biasanya memiliki daya
tarik, kewibawaan dan pengaruh yang sangat besar. Tokoh-tokoh atau para
pemimpin yang mempunyai tipe kharismatis, misalnya: Panglima Besar Jendral
Sordirman, Ir. Sukarno, John F. Kennedy, Nehru, dan lain-lain.
5. Teori Bakat
Teori bakat disebut juga teori
ekologis, yang berpendapat bahwa pemimpin itu lahir karena bakatnya. Ia menjadi
pemimpin karena memang mempunyai bakat untuk menjadi pemimpin. Bakat
kepemimpinan itu harus dikembangkan, misalnya dengan memberi kesempatan orang
tersebut menduduki suatu jabatan.
6. Teori Sosial
Teori sosial beranggapan bahwa pada
dasarnya setiap orang dapat menjadi pemimpin. Setiap orang mempunyai bakat
untuk menjadi pemimpin asal dia diberi kesempatan. Setiap orang dapat dididik
menjadi pemimpin karena masalah kepemimpinan dapat dipelajari, baik melalui
pendidikan formal maupun melalui pengalaman praktek. Yang menjadi masalah
adalah apakah orang yang bersangkutan mendapat kesempatan atau tidak. Banyak
orang yang mempunyai potensi untuk menjadi pemimpin, tetapi kesempatan tidak
pernah diberikan kepadanya. Sebaliknya, ada sementara pejabat yang sebenarnya
tidak mempunyai potensi untuk menjadi pemimpin, tetapi ia mendapat kesempatan
untuk memimpin. Apabila orang itu dalam menjalankan kepemimpinan tidak mau
mempelajari ilmu kepemimpinan atau ilmu manajemen maka ia akan memperoleh
cara-cara mempengaruhi orang lain dan bagaimana teknik-teknik kepemimpinan yang
baik.
Tipe-Tipe Kepemimpinan
Yang dimaksud dengan tipe
kepemimpinan adalah gaya atau corak kepemimpinan yang dibawakan oleh seorang
pemimpin dalam mempengaruhi para pengikutnya. Gaya seorang pemimpin dalam
menjalankan kepemimpinannya dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor
pendidikan, faktor pengalaman, faktor usia, dan faktor karakter, tabiat atau
sifat yang ada pada diri pemimpin tersebut. Orang yang ambisius untuk menguasai
setiap situasi, apabila menjadi pemimpin akan bersifat otoriter. Orang yang
mempunyai sifat kebapakan, apabila menjadi pemimpin akan menjalankan
kepemimpinan yang bertipe paternalistik. Pemimpin yang tidak menguasai bidang
tugas yang menjadi wewenangnya akan menyerahkan segala sesuatunya kepada para
bawahan, sehingga gaya kepemimpinannya bersifat laisser faire.
Dari berbagai leteratur dapat
ditemukan berbagai tipe kepemimpinan, anatara lain:
1)
Tipe Otokratis
Otokratis berasal dari kata otokrat,
dari kata autos dan kratos. Autos berarti sendiri, dan kratos berarti kekuatan
atau kekuasaan (power). Jadi kepemimpinan otokratis adalah kepemimpinan yang
mendasarkan kepada suatu kekuasaan, kekuatan yang melekat pada dirinya. Hal ini
berarti seseorang menjadi pemimpin karena mempunyai kekuatan atau kekuasaan
(power).
Ciri-ciri kepemimpinan yang bertipe
otokratis antara lain:
·
Mengandalkan kepada kekuatan atau kekuasaan yang melekat
pada dirinya
·
Menganggap dirinya yang paling berkuasa (kuasa tunggal)
·
Menganggap dirinya paling mengetahui segala macam persoalan,
orang lain dianggap tidak tahu.
·
Keputusan-keputusan yang diambil secara sepihak, tidak
mengenal kompromi, sehingga ia tidak mau menerima saran dari bawahan. Ia bahkan
tidak memeberi kesempatan kepada bawahan untuk memberikan saran, pendapat atau
ide.
·
Keras dalam mempertahankan prinsip.
·
Jauh dari para bawahan.
·
Lebih menyukai bawahan yang bersikap “yesman”, “abs” (asal
bapak senang).
·
Perintah-perintah diberikan secara paksa.
·
Pengawasan dilakukan secara ketat agar perintah benar-benar
dilaksanakan.
2)
Tipe Laisser Faire
Seperti telah diuraikan diatas, tipe
laisser faire pada umumnya dijalankan oleh pemimpin yang tidak mempunyai
keahlian teknis. Tipe laisser mempunya ciri-ciri antara lain:
·
Memberikan kebebasan sepenuhnya kepada para bawahan untuk
melakukan tindakan yang dianggap perlu sesuai dengan bidang tugas
masing-masing.
·
Pimpinan tidak terlibat dalam kegiatan sehingga pemimpin
tidak ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok.
·
Semua pekerjaan dan tanggungjawab dilimpahkan kepada
bawahan.
·
Tidak mampu mengadakan koordinasi dan pengawasan yang baik.
·
Tidak mempunyai wibawa sehingga ia tidak ditakuti apalagi
disegani oleh bawahan.
·
Secara praktis pemimpin tidak menjalankan kepemimpinan
sehingga ia hanya merupakan simbol belaka.
Berdasarkan ciri-ciri di atas,
pemimpin dengan tipe laisser faire bukanlah pemimpin dalam arti sebenarnya.
Seorang pemimpin dengan cara apapun diharapkan dapat menggerakkan bawahan
sehingga tujuan oeganisasi dapat tercapai. Cara yang terbaik ialah
mempengaruhi, bukan dengan menakut-nakuti.
3)
Tipe Paternalistik
Tipe peternalistik adalah tipe
kepemimpinan yang bersifat kebapakan. Pemimpin bertindak sebagai seorang bapak
yang selalu memberikan perlindungan kepada para bawahan dalam batas-batas
kewajaran.
Ciri-ciri tipe paternalistik antara
lain:
·
Pemimpin bertidak sebagai seorang bapak.
·
Memperlakukan bawahan sebagai orang yang belum dewasa.
·
Selalu memberikan perlindungan kepada para bawahan yang
kadang-kadang terlalu berlebihan.
·
Keputusan ada ditangan pemimpin, bukan karena pemimpin ingin
bertindak secara otoriter, tetapi karena keinginan dari pihak pimpinan yang
ingin selalu memberi kemudahan kepada bawahan. Oleh karena itu para bawahan
jarang-jarang bahkan sama sekali tidak memberikan saran kepada pimpinan. Pihak
pimpinanpun jarang meminta saran dari bawahan.
·
Karena keputusan ada ditangan pimpinan, maka pimpinan
menganggap dirinya yang paling mengetahui segala macam persoalan.
4)
Tipe Militeristis
Tipe Militeristis tidak hanya
terdapat dikalangan militer saja. Tetapi banyak pemimpin instansi (non-militer)
yang menerapkan kepemimpinan dengan tipe militeristis. Tipe militeristis
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
·
Dalam mengadakan komunikasi, lebih banyak mempergunakan
saluran formal.
·
Dalam menggerakkan bawahan lebih banyak menggunakan sistem
komando/perintah, baik perintah itu secara lisan maupun secara tertulis.
·
Segala sesuatu bersifat formal
·
Disiplin yang tinggi, kadang-kadang bersifat kaku.
·
Karena segala sesuatunya melalui perintah, maka komunikasi
hanya berlangsung satu arah sehingga bawahan tidak diberi kesmpatan untuk
mengemukakan pendapat.
·
Pimpinan menghendaki bawahan tidak diberi kesempatan untuk
mengemukakan pendapat.
·
Pimpinan menghendaki bawahan patuh terhadap semua perintah
yang diberikannya.
5)
Tipe Demokratis
Tipe demokratis jauh berbeda dengan
tipe-tipe yang telah kita bicarakan. Pemimpin yang bertipe demokratis selalu
berada di tengah-tengah para bawahan sehingga ia terlibat dan berpartisipasi
aktif dalam kegiatan organisasi.
Kepemimpinan dengan tipe demokratis
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Berpartisipasi
aktif dalam kegiatan organisasi.
b. Bersifat
terbuka.
c. Bawahan diberi
kesempatan untuk memberikan saran-saran, ide-ide baru
d. Dalam mengambil
keputusan lebih mengutamakan musyawarah untuk mufakat, daripada keputusan yang
bersifat sepihak. Apabila musyawarah untuk mufakat tidak berhasil maka ditempuh
dengan jalan lain yang sesuai dengan alam demokratis, misalnya secara votimg.
e. Menghargai
potensi setiap individu.
f. Berlangsung
dengan mantap.
Kemantapan kepemimpinan demokratis
dapat dilihat dalam hal-hal sebagai berikut:
·
Unit-unit organisasi berjalan lancar, melakukan kegiatan
sesuai dengan fungsi masing-masing.
·
Otoritas didelegasikan kepada para bawahan.
·
Bawahan merasa senang, aman, tentram.
·
Semangat kerja bawahan tinggi, baik ada pimpinan maupun
tidak ada pimpinan.
g. Pimpinan sering
turba (turun ke bawah) melakukan pembinaan dan penyuluhan, yang sekaligus
melakukan pengamatan terhadap hasil yang telah dicapai, serta
kelemahan-kelemahan atau kekurangan dan kesulitan yang dihadapi para bawahan.
6)
Tipe Open Leadership
Sebenarnya tipe open leadership
hampir sama dengan tipe demokratis. Perbedaannya hanya terletak dalam hal
pengambilan keputusan. Tipe demokratis lebih mengutamakan musyawarah untuk
mufakat sehingga musyawarah dijadikan dasar keputusan. Hasil musyawarah menjadi
keputusan pimpinan. Dalam hal ini berbeda dengan tipe open leadership. Pimpinan
memang memberikan kesempatan kepada para bawahan untuk memeberikan saran, tetapi
keputusan tetap ada ditangan pimpinan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar